ABIN NABA

oleh Pidi Baiq

BAB I

Ketika Raja Omes menyelesaikan makan siang bersama Raja-raja lainnya yang menginap di kerajaannya, Abin berhasil ditangkap oleh wali kelasnya, setelah dia berhasil kabur dari  sekolah.

Di sekolah, ia dipanggil oleh guru-gurunya yang kemudian memarahinya dengan bahasa yang formil di sebuah ruangan yang sempit yang penuh dengan tulisan pepatah. Abin menangis meskipun Abin tahu bahwa tak ada yang bisa diselesaikan oleh air mata. Tetapi itu adalah air mata kecewa dan amarah.

Mendengar nasib Abin, semua Raja merasa kasihan kepada Abin, kecuali Raja Osmon, karena dia masih tidur. Raja Satar langsung memanggil jendralnya, yang sedang menghadiri pembantaian semut dan lalat di Afrika, untuk egera menmbantu menangani kasus Abin.

Para raja itu  segera mengunjungi rumah khusus penampungan anak-anak bolos sekolah. Dan anak bolos sekolah yang pertama bicara kepada raja-raja adalah Zaelos.

Zaelos bilang bahwa pada saat ia bolos, sebenarnya dia terus memikirkan sekolahannya. Pacarnya Zaelos adalah Wasito, yang telah dibunuh oleh adik Ketua Murid karena dianggap berpotensi menghalangi gerakan kakaknya meraih jabatan yang lebih tinggi, ketua OSIS.

“Coba lihat sekarang, bagaimana mungkin kami tidak bolos sekolah. Kepada sekolah saya bayar SPP dan hal yang lainnya juga, lalu tiba-tiba kami menjadi tawanan”

“Lihatlah Abin, ia harus cinta kepada Sorea, ketua seksi rohani OSIS, hanya agar dia bisa semangat sekolah ketika ia tidak bisa mendapatkannya dari hal lain. Padahal dia tahu Sorea itu jahat karena suka membunuh capung, dan itu adalah merusak karya Tuhan.”

Zaelos menceritakan semuanya dengan ngawur, tetapi Raja-raja itu menangis mendengarnya. Sekarang Zaelos telah didengar untuk segala sesuatu secara penuh.

Lalu Zaelos berkata, “Wahai raja segala raja, Bolos sekolah adalah tidak benar, saya katakan ini supaya tidak ada orang lain yang  bolos sekolah. Abin tidak ada di sini, Raja, perbuatan kami bolos sekolah adalah untuk Merica, ketua geng kami, bahwa hatinya selalu berguncang ketika dia berpikir tentang penderitaan anak-anak  yang bosan berada di dalam kelas. Mereka ingin laut. Ingin gunung, tapi terhalang oleh pagar yang tinggi, dan kami adalah orang-orang yang lemah sebagaimana mereka memandang kami begitu”

Itu adalah mereka, telah saling berpegangan tangan sampai merasa bahagia meskipun tidak. Dan akan terus berusaha melawan dari segala macam bujukan yang akan membuat mereka terpisah dari kehidupannya yang nyata, dan tidak usah berpikir apa-apa lagi selain menjadi kerbau untuk sebuah kebenaran di luar diri mereka, Kunci Jawaban namanya.

“Wahai Raja-Raja, kami mungkin dapat mengambil pelajaran dari sekolah, namun ketika mereka tidak menggunakan hatinya, itu telah menyebabkan banyak korban. Lalu mengapa mereka terus menjadi seperti itu. Menjadi begitu marah kepada kami ketika seharusnya justru harus merangkul kami yang nakal ?”

Dan Raja berkata, “Anak-anakku, terserahlah apa yang kamu bicarakan itu. Tapi tidak ada anak sekolah yang lebih lebih nakal di muka bumi ini dibanding dengan melakukan perbuatan bolos sekolah, ketika kepala sekolah justeru sedang istirahat di sorga”

“Ingatlah, Anak-anakku, bagaimanapun, bahwa guru-gurumu masih marah kepada kalian, karena dibutakan mata mereka dari masa lalunya yang juga pernah menjadi anak-anak. Abin dan juga kalian adalah anak-anak bumi, yang dilahirkan oleh kasihsayang. Kalian boleh pergi ke ke laut, ke gunung, ke lembah, bersama dirimu sendiri,  untuk mendapat hikmah dan pelajaran, bahkan dari apel yang jatuh menimpa kepala Newton.”

“Namun, marilah kita berangkat bersama-sama dan melihat bagaimana kita dapat membantumu untuk kembali gembira. Kalian harus tenang, karena jika kita semua begitu, nyaris tak akan ada kekuatan yang akan bisa merobohkan kita. Dan itu adalah seperti karang ”

Zaelos berkata, “Raja, anak langit, Raja segala raja, kalau kemudian sekarang kami harus kembali ke sekolah, pertama-tama kita harus mengirimkan Saturnus. Memberitahu mereka bahwa kami telah berpikir untuk kembali ke sekolah. Sementara itu kami akan menunggu di sini untuk mendapatkan jatah makanan sambil bermain skateboard”.

“Kami akan memberanikan diri menelepon orangtua kami yang bertahan dalam makanan yang basi karena kami lama tak kunjung pulang.  Dan  mengajak guru-guru kami untuk melihat apakah mereka bisa mendengar apa-apa tentang kasih sayang, sehingga ini akan membuat mereka belajar untuk bicara dengan cara yang menentramkan. ”

BERSAMBUNG