“OKI dan ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTO.

Saya baru pulang dari Jogja. Empat hari di sana untuk acara konser Musik The Panasdalam: “ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTO” di Taman Budaya Yogyakarta.

Berangkat dari Bandungnya malam jum’at, tgl 21 Juli. Pulang ke Bandungnya hari Minggu, pada waktu Jogja sudah ashar, yaitu setelah saya mengagumi candi Prambanan dengan cara lama-lama memandangi reliefnya, pada tanggal 24 juli 2011.

Itu perjalanan yang tidak keren, tapi rame, karena perginya naik bis, bersama rombongan warga The panasdalam. Pulangnya juga begitu, pulangnya juga rame. Bedanya, pada waktu kami pergi, masing-masing masih telihat tampil seger, sedangkan pada waktu pulangnya masing-masing membawa oleh-oleh.

Menurut saya naik bis itu capek, meskipun di dalam bisnya ada ketawa, meskipun kami boleh tidur dan ada musiknya. Meskipun sopirnya sudah tua dan gak boleh tidur. Meskipun ada konsumsi dan saya tidak ngambil, kecuali roti aja 2 dan beberapa yang lainnya.  AC-nya dingin dan saya pake kacamata hitam. Ya betul, biar bagaimana pun, tetap saja capek, meskipun diselingi oleh berphoto-photo dulu di SPBU pada kesempatan bis harus mengisi bensin, meskipun diselingi istirahat dulu di sebuah rumah makan dan ngopi.

Atau mungkin bukan capek, lebih tepat dibilang kesal, karena lama sekali nyampenya. Menurutku itu membosankan kalau harus duduk di dalam bis selama 12 jam lebih, tanpa ada kolam renang. Apalagi ada si Oki, si Oki Jelly Drink, yang ikut pake kaos The Panasdalam bajakan, karena membelinya di Gasibu. Yaitu Oki yang pernah saya nyangka dia itu pake topeng, sampai-sampai saya bisiki dia, mending muka asli, Oki, cakepan muka asli kamu mah. Tapi katanya itu asli dan harusnya saya minta maaf, tetapi tidak.

Oki itu masih muda, masih remaja dan suka dipotret dengan menyimpan kedua jari tengahnya menempel di kedua pipinya, yaitu di kanan kiri mukanya yg dia bikin seseram mungkin, supaya semua bayi di dunia akan menjerit pada waktu melihat potretnya.

Pada waktu istirahat untuk ngopi, yaitu di daerah empat jam lagi sampai Jogja, Oki bilang ke saya dia ingin Bekti. Awalnya saya bingung, karena saya kira Bekti itu nama makanan. Ternyata bukan. Bekti itu mahasiswi senirupa UPI Bandung yang ikut dalam rombongan. Dia ingin Bekti katanya, ingin jadi pacar Bekti. Dia butuh bantuan saya untuk dijodohin sama Bekti, bagaimana pun caranya asal bisa jadian.

Sebetulnya Bekti itu adalah orang kedua yang Oki harapkan akan mau, atau lebih indah kalau dikatakan: Bekti itu adalah calon korban kedua yang ingin Oki tembak. Sebelumnya Oki sudah berhasil ditolak oleh siapa itu namanya, mahasiswi senirupa UPI juga.  Oki nyatain langsung ke orangnya pada saat kami istirahat di rumah makan. Nyatain ke dia bahwa Oki  ingin menjadi pacarnya seperti dalam adegan sebuah film, disaksikan oleh semua anggota rombongan yang tertawa dan juga dihandycam. Menurut saya itu pertunjukkan yang bagus, yang tentu saja sekaligus mengecewakan bagi Oki. Saya hanya bilang, sabar Oki, masih ada wanita lain yang mau menolakmu. Wow, Oki tidak sedih. Itulah kerennya Oki yang saya suka. Oki saya lihat tetap tersenyum, tetap gembira, dan pasti akan mudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa bagi dia yang sudah berpengalaman ditolak.

Gagal mendapatkan orang yang dia mau, Oki beralih ke Bekti, yaitu Bekti yang sama menolaknya juga. Oh Oki, coba dengar, katanya, seseorang dikatakan Ksatria bukan ditentukan oleh dia menang dalam bertanding, tetapi oleh karena dia berani mau berjuang. Atau Oki sudah tau?.

Edan, Oki masih terus saja gembira, seolah-olah dia sengaja memang harus bersikap begitu untuk membuatnya tetap tenang. Seolah-olah dalam hidupnya Oki, tak lain cuma ada kesenangan, meskipun sebetulnya tidak. Meskipun sebetulnya saya curiga bahwa itu adalah bentuk lain dari cara Oki untuk menutupi dirinya yang kecewa.

Saya senang Oki ikut ke Jogja sebagaimana saya senang yang lain juga pada ikut. Saya senang karena lalu tau kata Oki dia senang bisa ikut bersama The Panasdalam. Dia senang katanya, karena bisa melihat  The Panasdalam tampil di Jogja, meskipun katanya itu terlalu lama, terlalu malam, untuk The Panasdalam segera muncul.

Iya, Oki, di luar dugaan ada pemuluran dari jadwal rundown yang sudah ditentukan. Tapi itu hal biasa, Oki. Lumrah dan gak apa-apa. Panitia pasti sudah berusaha melakukan hal yang terbaik biar bagaimana pun. Sudah edan-edanan berbuat banyak hal mengurus semuanya sehingga acara ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTA akhirnya bisa terwujud dengan sukses.

Marilah tetap senang, meskipun bisa Oki saksikan sendiri bahwa penampilan The Panasdalam harus berhenti di tengah jalan, karena tiba-tiba acaranya dihentikan oleh pihak yang berwajib.

Marilah tetap oke, meskipun dengan begitu akhirnya saya cuma bisa membawakan 10 lagu dari 30 lagu yang sedianya akan  saya nyanyikan. Saya tidak kecewa, Oki, sama sekali tidak, saya tetap gembira, sama seperti ketika Oki tetap gembira pada waktu Oki ditolak.

Malahan saya sepakat dengan keputusan pihak berwajib, karena menurut saya mereka sudah benar. Mereka sudah melakukan apa yang harus mereka lakukan dengan mengacu pada kesepakatan di atas kertas bahwa acara harus sudah selesai sampai jam dua belas malam.

Harus tetap riang, Oki, meskipun acaranya dihentikan. Harus tetap senang, Oki, toh biar bagaimana pun saya masih bisa bernyanyi di dalam hati, untuk mereka  akan bisa mendengarnya juga di dalam hati, karena saya percaya bahwa kita masih memiliki hati nurani dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.

Itulah, Oki, Konser Musik The Panasdalam, mudah-mudahan bisa memberikan kegembiraan dan kesenangan. Memberikan penghiburan dan pencerahan, khususnya kepada mereka yang sudah hadir dan harus bayar. Dan itulah mereka, Oki, yaitu band-band pembuka yang sudah tampil sangat keren dan sudah berhasil bisa membuat saya gembira dan juga ketawa sendirian menyelip di antara 600 orang penonton.

Kita sekarang sudah ada di Bandung lagi, dan sudah selalu sedang bangga kepada Patrick Manurung, si ketua penyelenggara ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTO, yang sudah habis-habisan berjuang hanya untuk sebuah konser musik The Panasdalam. Juga bangga kepada kawan-kawan Jogja yang sudah sangat baik, mau bergabung menjadi anggota panitia, demi membantu Patrick Manurung yang saya lihat sekarang mulai sedikit punya brewok.

Oh Jogjakarta, ya jogjakarta. Haruskah saya katakan bahwa saya mencintaimu? Saya kira tidak perlu lagi, karena kamu sudah tau.

Bandung 25 Juli 2011 masehi

Pidi Baiq