21 Desember 2012

21 Desember 2012

Pada hari itu, tanggal 21 Desember 2012, matahari akan bergabung lagi dengan titik silang yang terbentuk akibat ekliptika (jalan matahari) dengan ekuator secara total. Ketika itulah matahari akan tepat berada di tengah-tengah sela sistem galaksi, atau dengan kata lain galaksi akan terletak di atas bumi, seolah-olah sedang membuka sebuah “Pintu Langit” buat siapa saja umat manusia.

Menurut perhitungan kalender Maya, hari itu akan menjadi hari berakhirnya peradaban umat manusia. Sesudah itu, umat manusia akan memasuki peradaban baru secara total yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan peradaban sekarang, kecuali di daerah Buahbatu, Bandung.

Kalau ditinjau dari beberapa penelitian yang telah dilakukan saat ini, memang pada dua dasawarsa belakangan ini, bumi sedang mengalami suatu siklus yang dinamakan dengan pembalikan daya magnet kutub, kecuali di daerah Buahbatu, Bandung.

Pembalikan daya magnet kutub ini adalah proses yang terjadi pada saat kutub utara dan kutub selatan saling bertukar posisi. Kalau ini terjadi, untuk beberapa saatmedanmagnet bumi akan mencapai Gauss nol. Bumi pada saat itu akan punya daya magnet nol, maka masalah besar akan terjadi, kecuali di daerah Buahbatu, Bandung, daerah rumah Pidi Baiq

 

KEONG DAN KELINCI, DONGENG SETELAH TIDUR

KEONG DAN KELINCI

(Dali hati yang dalam untuk mama papa yang loyal)

Ini kisah lama. Kisah tahun 1823. Kisah tentang dua ekor binatang.

Si kelinci, namanya Klin Klin. Si Keong sawah, namanya King Kong. King Kong Sentiong Barepa lengkapnya. Mereka tidak ada janji bertemu. Tapi mereka bertemu di areal pesawahan, pada sore hari itu.

King Kong, mendapatkan Klin Klin sedang membuat hurup K dengan pulpen biru pada bagian punggung tangannya. Dia bersandar di pohon Ki hujan yang tumbuh di pematang sawah.

Si King Kong sendiri sedang duduk menggambar. Dia menggambar seribu tangkai bunga mawar di atas permukaan lumpur. Kedua binatang itu asik dengan dirinya sendiri. Tidak saling peduli. Tidak ada suara, kecuali angin. Atau sesekali terdengar suara Klin Klin meludahkan dahaknya jauh-jauh.

Tapi lama-lama, si Klin Klin mulai membuat si King Kong sebal. Itu, mata si Klin Klin suka seperti sengaja mendelik ke arah King Kong. Dia melakukannya sambil senyum, maksudnya senyum yang mengandung makna meremehka.

Si King Kong tiba-tiba jadi benci sama Klin Klin. Mulanya masih bisa dibiarkan, tapi lama-lama mulai membuat si King Kong kesal:

”Apa sih lihat-lihat!”, si King Kong membentak. Itu membuat si Klin Klin jadi kaget. Klin Klin tidak menjawabnya, dia malah berlagak seperti sengaja tidak mau mendengar. Mata si Klin Klin diarahkan ke jurusan lain, ke arah barat daya, ke arah asal angin bertiup. Lihat bibirnya, terus saja tersenyum menyebalkan. Sesekali malah ada selingan ketawa. Keras sekali. Itu membuat King Kong jadi melotot kepadanya. Melotot kesal. Dan mulut King Kong cemberut. Maka itu tandanya King Kong mulai marah.

Si King Kong menggores-goreskan tangannya pada gambar seribu mawar di lumpur, sama seperti anak kecil kalau sedang mengacak-acak nasi. Itu dia lakukan supaya terasa seperti melakukannya pada muka si Klin Klin. Wow, warna muka si King Kong sebenarnya merah, kalau saja si Klin Klin bisa melihat.

“Eeiii, cemberut! Kayak anak kecil aja”, Klin Klin mulai buka suara, tapi mukanya tetap mengarah ke tempat lain.

“Balap lari deh kalau berani” Sambung Klin Klin. Suaranya datar.

King Kong tidak menjawab, ia masih terus melotot kea rah Klin Klin.

“Berani enggaaaak?” Klin Klin terus aja ngomong. Suaranya itu, suara kesombongan.

“Ayo!!!” Jawab si King Kong, suaranya seperti menjerit. Marah besar rupanya.

Si King Kong beranjak dari Lumpur, dating untuk menghampiri Klin Klin. Tapi Klin Klin malah tertawa dan kemudian menatap King Kong dari ujung punuk hingga ke ujung kakinya.

“Bener beraniiiiii?”, Klin Klin bicara dengan nada meremehkan. King Kong menjawabnya dengan menarik garis di atas tanah dan membuat tulisan “STAR”, oh pasti maksudnya “START”.

Kalau dipersingkat ceritanya, maka kedua binatang pengangguran itu pun akhirnya jadi juga bertanding untuk saling adu cepat berlari. Keduanya mulai saling mengambil ancang-ancang. Satu, dua….tigaaaaaaa!!! Sejak itu keduanya pun mulai berlari. Saling memacu dirinya.

Klin Klin lari seperti kilat. Kencang sekali. King Kong lari seperti tidak, menyebabkan dia jadi tertinggal jauh di belakang. Larinya pelan sekali sih. Cuma 100 centimeter perjam. Lihat coba si Klin Klin, dia masih terus berlari. Berlari kencang sekali. Makin jauh saja meninggalkan King Kong yang bergerak merayap dengan keringatnya yang mulai mengucur. Bergerak terengah-engah.

Beberapa lama kemudian jarak antara keduanya sudah jadi sejauh satu kilometer. Malahan lebih. Ya betul akhirnya Klin Klin yang menang. Ia sudah tiba dengan selamat di garis FINISH, sambil merasa heran karena melihat sudah terdapat tulisan FINISH disana. Sedangkan si King Kong, wah masih jauh tertinggal di belakang. Mungkin baru satu hari lagi dia akan bisa sampai.

Si Klin Klin berkacak pinggang, kepalanya dongak untuk ketawa. Ketawanya sengaja dibikin keras, supaya si King Kong bisa mendengar. Karena si King Kong berada jauh sekali, terlihat cuma titik kecil. Si titik kecil itu, si King Kong itu, kemudian bergerakl untuk belok ke arah sawah. Bergerak lesu seperti hidup sudah tanpa harapan diiringi suara Klin Klin yang tertawa membanggakan dirinya. Mudah-mudahan King Kong akan mendengarnya seperti sembilu yang sedang mengiris hatinya.

Nah bapak-bapak, ibu-ibu, cerita di atas itu, tentu saja cuma dongeng. Tapi kalau disimak bisa diambil hikmahnya, bahwa pertama, kalau menang jangan sombong, karena sombong itu sangat menyakitkan orang yang belum memiliki kesempatan untuk sombong. Kedua, usahakan jangan kalah kalau bertanding, karena kalah dalam pertandingan itu bukan biasa. Kalah dalam pertandingan itu sangat luar biasa. Sangat luar biasa menyakitkan ha ha ha. Ketiga, ya itu, kalau mau mendapat takdir yang dihendaki, harus tahu kapasitas dirimu.

Pidi Baiq, KL 6 juli 2004

WAWANCARA dengan OFFICE BOY di kantorku

Pidi Baiq: Slamet pernah jatuh cinta gak?

Slamet: Pasti dong

Pidi Baiq: Kapan pertama kali jatuh cinta?

Slamet: Maksudnya

Pidi Baiq: Kapan pertama pacaran?

Slamet: Pertama pacaran… tahun lalu.

Pidi Baiq: Sekarang masih?

Slamet: Enggak

Pidi Baiq: Kenapa?

Slamet: Putus, Pak Haji

Pidi Baiq: Sebab apa putus?

Slamet: Ya gitu deh. Biasalah orang ketiga

Pidi Baiq: Dianya selingkuh ya?

Slamet: Selingkuh enggak ya?Gak tau, Pak Haji

Pidi Baiq: Selingkuh, kan? Kenapa sampai bisa selingkuh?

Slamet: Iya. Kenapa ya?

Pidi Baiq: Kenapa? Maksudnya kenapa dia selingkuh?

Slamet: Iya, si perempuannya selingkuh, kenapa sampai bisa selingkuh ya?

Cowoknya lebih cakep kali. Gak bener pertanyaannya ha ha.

Pidi Baiq: Kata siapa cowoknya lebih cakep?

Slamet: Ya, kata dialah!

Pidi Baiq: Kirain kata kamu. Kalau menurut kamu sendiri?

Slamet: Ya memang cakep]

Pidi Baiq: Sakit hati gak?

Slamet: Enggak lah. Biasa

Pidi Baiq: Jujur?

Slamet: Jujur

Pidi Baiq: Terus menurut kamu perempuan seperti itu gimana?

Slamet: Perempuan yang gimana?

Pidi Baiq: Ya, perempuan yang selingkuh itu, menurut kamu perempuan itu perempuan macam apa?

Slamet: Perempuan macam apa?

Pidi Baiq: Enggak, gini perempuan yang selingkuh itu bagus enggak?

Slamet: Matre kali.

Pidi Baiq: Kan katanya dia selingkuh karena cakep bukan matre?

Slamet: karena gua jelek kali ya? Atau juga karena…..

Pidi Baiq: Apa?

Slamet: Miskin kali

Pidi Baiq: Tadi kamu bilang enggak sakit hati. Kenapa enggak sakit hati?

Slamet: Karena enggak sakit hati, karena sakit jiwa he he. Emang enggak sakit hati tapi sakit jiwa

Pidi Baiq: Maksudnya sakit jiwa?

Slamet: Harga diri

Pidi Baiq: Harga diri gimana?

Slamet: Harga diri saya

Pidi Baiq: Harga diri kamu kenapa?

Slamet: Serasa tidak berarti

Pidi Baiq: Aing teu ngarti. Ha ha (Gue gak ngerti, Red)

Slamet: Jero (Dalem, Red)

Pidi Baiq: Berusaha mencari lagi gak?

Slamet: Pikir-pikir dulu

Pidi Baiq: Apanya yang harus dipikir? Tentang apa?

Slamet: Gak gampang cari cewek yang perhatian. Dan enggak matre. Tanya typenya deh?

Pidi Baiq: Iya. Typenya?

Slamet: Type cewek yang dikerudung yang soleh yang baik yang jujur pengertian yang setia.

Pidi Baiq: Pacarmu itu sempat dicium gak, pacarmu yang dulu itu?

Slamet: Pernah sih. Tapi dicium tangannya.

Pidi Baiq: Terus dia mau?

Slamet: Maksudnya?

Pidi Baiq: Dia mau dicium tangannya?

Slamet: Ya mau.

Pidi Baiq: Kamu seneng waktu itu?

Slamet: Ya, gitu deh. Namanya juga pacaran. Dicium tangannya aja seperti dicium…seperti dicium hatinya ha ha

Pidi Baiq: Bagaimana dulu kamu mendekati dia?

Slamet: Mendekati dia…Itu awalnya dari temen aja. Cuman kenal. Ya minta nomor telepon. Terus SMS an.

Pidi Baiq: Terus?

Slamet: Kok terus?

Pidi Baiq: Ya, terus setelah SMS-an? Kamu datang ke rumahnya?

Slamet: Enggak. Ketemuan

Pidi Baiq: Ketemuan di mana?

Slamet: Di sebuah mall.

Pidi Baiq: Terus bagaimana reaksinya pas ketemu kamu di mall?

Slamet: Tersenyum manja.

Pidi Baiq: Waah. Nah, selama pacaran, apa yang sudah Slamet berikan ke dia?

Slamet: Perhatian

Pidi Baiq: Kalau barang?

Slamet: Oh, barang. Baju

Pidi Baiq : Terus?

Slamet: Udah baju doang.

Pidi Baiq: Setelah tahu dia selingkuh bagaimana perasaan Slamet

Slamet: Kan tadi udah kan…masa diulang lagi. Yang sakit hati tadi

Pidi Baiq: Ye. Kamu bilang gak sakit hati

Slamet: Tapi kan sudah bilang sakit jiwa. Sakit jiwa dan raga.

Pidi Baiq: Dulu orangtuanya setuju gak waktu tahu anaknya pacaran sama kamu?
Slamet: Orangtuanya gak tahu pacaran

Pidi Baiq: Kenapa?

Slamet: Gak pernah cerita

Pidi Baiq: Kan kamu datang ke rumahnya

Slamet: Belum pernah

Pidi Baiq: Oh. Selama ini ketemuan di mana?

Slamet: Di tempat kerja

Pidi Baiq: Di tempat kerja dia? Di mana?

Slamet: Dulunya sih di BIP, sekarang di Buahbatu

Pidi Baiq: Sekarang sudah ada inceran belum?

Slamet: Kemarin sudah, ya, tapi gagal lagi

Pidi Baiq: Menurut kamu gagalnya karena apa?

Slamet: Karena jauh.

Pidi Baiq: Bagaimana bisa karena jauh?

Slamet: Kok bagaimana karena jauh sih?

Pidi Baiq: Tadi kamu bilang karena jauh?

Slamet: Karena jauh, saya di cilaki, dia di kopo. Males, Pak Haji. Udah, ah!

Wawancara terputus karena dia dipanggil atasan divisinya.

Bandung, 19 Juni 2007.

PUISI TIMUR

Timur, Timur Langit, anakku.

Ini Ayahmu, sedang sendiri di Ohlala. Sedang tiba-tiba inget kamu. Inget puisi yang kamu bikin kemarin lusa. Puisi yang kamu bikin untuk tugas PR sekolahmu. Kamu bikin sendiri dan kemudian kamu kasih ayah lihat.

Ayah ketawa membaca puisimu itu, ibu juga sama ketawa ya. Lalu Ayah bilang ke kamu dan juga kepada ibumu: “Ini Puisi”. Puisi yang bagus, pasti dapat nilai bagus. Lalu kamu senang atau Ayah lihat kamu seperti senang.

Wahai Timur, seandainya kamu bisa membaca perasaan orang, pada saat itu ayah sangat sedang terpesona oleh puisimu. Bukan karena ayah bapakmu, bahkan jika yang bikin puisinya anak musuh Ayah, Ayah juga akan dirundung perasaan yang sama.

Lalu kamu simpan buku yang ada puisimu itu, ke dalam tas sekolahmu. Kamu tidur lekas-lekas. Tidur dengan seolah-olah berharap pagi bisa lekas akan datang, karena  ingin segera pergi sekolah, untuk segera kamu perlihatkan puisimu itu kepada gurumu. Guru Bahasa Indonesiamu. Ini Ayah tulis lagi puisimu di sini:

AYAMKU.

 

Aku punya ayam lima.

Yang satu betina

Yang satu lagi jantan

Yang satu lagi digoreng

Yang satu lagi ulang tahun

Yang satu lagi sedang flu.

Sekarang Ayah di sini, di tempat Ayah harus menunggu kawan Ayah yang janji jumpa. Ayah sedang ketawa tetapi juga sekaligus sedih. Ketawa, karena Ayah terkenang kembali akan kalimat puisimu. Sedih, karena Ayah tahu ternyata puisi kamu dapat nilai lima setengah.

Katamu, mengadu kepada Ayah, gurumu bilang itu bukan puisi. Oh, Timur, kamu tahu? Setelah itu Ayah sedih? Dan juga kuatir bahwa kamu akan menuduh ayah sudah bohong karena kemarin Ayah bilang :”Ini Puisi” dan bagus. Tidak, Timur, jujur, Ayah jujur, itu puisi. Ayah serius.

Ayah tidak tahu harus bilang apa pada waktu Ayah melihat matamu seperti kecewa, meskipun kemudian akhirnya bisa kamu lupakan dengan gembira bermain PS. Tapi Ayah tiba-tiba seperti bisa mendengar bahwa seolah-olah kamu berkata: “Wahai Alam Raya, saksikanlah, ini aku, kini sudah tahu, ternyata hanya bisa bermain game, tidak bisa bikin puisi. Dan maaf, juga sekarang kau harus tahu, aku tidak suka puisi”.

Timur, Timurku, Ayah tahu nilai bukan hal utama yang paling penting. Tapi, Timur, kamu masih kecil untuk bisa memamahinya. Kamu harus tahu bagaimana Ayah sekarang di sini, iya, Timur, Ayah sedang merasa seolah-olah hanya ayah saja, di dunia ini, yang lagi lesu karena sedih dan kecewa.

Pidi Baiq

Ohlala, Bandung 14 Juli 2007, 21.34 WIB

Cuplikan Dialog YM dengan Happy Tyazh

Cuplikan dialog YM antara saya dan Pipi

Diambil dari multiplynya Happy Tyazh,

orangnya radio ARDAN FM

(Tanpa izin karena susah dihubungi)

DIALOG DENGAN PAKAR KESEHATAN: PIDI BAIQ

Ditengah kebingungan, Kang Pidi Baiq menyempatkan diri memberikan tips2 yang membuat saya hari ini tersenyum pada akhirnya..

Pidi Baiq : Pi, punten, ini serius
Pidi Baiq : minum susu lah
Pidi Baiq : biar sehat

* HaPPiPpY * : ga mao
* HaPPiPpY * : ga enakkk

Pidi Baiq : biar enggak pucat seperti di photo mu
Pidi Baiq : udah ya Pi, saya mau tidur lagi
Pidi Baiq : dadaaah

* HaPPiPpY * : iihhh
* HaPPiPpY * : tidur mulu
* HaPPiPpY * : nanti memuai

Pidi Baiq : saya kan tae kwondo
Pidi Baiq : jadi nanti mengkerut lagi

* HaPPiPpY * : hooohhh
* HaPPiPpY * : kalo biar langsing apa kang?

Pidi Baiq : tumis tutu
Pidi Baiq : sama cangkangnya dimakan

* HaPPiPpY * : tutu itu apa?

Pidi Baiq : tutut itu keong sawah

* HaPPiPpY * : walah
* HaPPiPpY * : tutut itu mah

Pidi Baiq : iya kan?

* HaPPiPpY * : emang tutut bisa bikin kurus?
* HaPPiPpY * : setau aku bisa bikin eneg itu mah

Pidi Baiq : kan kamu makan sama cangkangnya
Pidi Baiq : terus mampet di kerongkongan
Pidi Baiq : terus kamu sakit
Pidi Baiq : susah makan
Pidi Baiq : nah nanti kan jadi kurus
Pidi Baiq : masa enggak ngerti sih?

* HaPPiPpY * : itu jadi kurus apa jadi mati?
* HaPPiPpY * : saya pengen kurus tp yg nggak bikin cepet mati gitu lah kang

Pidi Baiq : makan daun katuk, Pi
Pidi Baiq : banyak2
Pidi Baiq : biar kurus!
Pidi Baiq : Eh, emang kamu gemuk?
Pidi Baiq : enggak ah
Pidi Baiq : berat 75 kilo

* HaPPiPpY * : 75 kiloooooooooo???
* HaPPiPpY * : uda turun taauuu
* HaPPiPpY * : 74 setengah

Pidi Baiq : Pipi mau apa lagi
Pidi Baiq : sudah cukup segitu
Pidi Baiq : lingkar pergelangan tanganmu 8 cm
Pidi Baiq : menurut saya yang lelaki
Pidi Baiq : kamu itu segitu sudah cukup
Pidi Baiq : untuk memperkurus badan bisa dibantu dengan cara berpakaian
Pidi Baiq : pake baju longgar dan garis-garis vertikal

* HaPPiPpY * : owh.. baiklah suhuu
* HaPPiPpY * : trus apalagi suhuu

Berikut ini tips dari Kang Pidi, Mengakali Agar Tak Terlihat Gendut

Nahusahakan bajunya sepadu dengan warna tempat yang kamu datangi. Sehingga kamunya jadi samar. Tapi harus survey dulu. Supaya kamu tau apa warna dominan di tempat yang akan kamu kunjungi itu.

Kalau dominan cokelat, berarti kamu juga harus pake pakaian warna cokelat. Supaya kamunya nanti akan terlihat samar. Maksudnya kalau nanti ada orang bilang kamu gemuk, kamu bisa ada alasan: “ah enggak, itu mah efek warna lingkungan aja”

Terus, sering-sering diam di deket benda-benda besar, seperti drum minyak tanah, torn. Itu untuk visual bandingan, Pi. Itu namanya tipuan optik.

Atau usahakan orang hanya melihat samping bagian badanmu. Jangan sampai melihat tampak depan. Ah, gampang lah.

Kamu juga bisa acungkan tangan dan goyang-goyangkan. Maksudnya biar orang nanti hanya fokus melihat itu, bukan melihat badanmu. Atau kalau perlu kamu bawa petasan banting

* HaPPiPpY * : buat apa?

Tahu untuk apa petasan banting, Pipi? Untuk mengecohkan perhatian ih! Biar kalau ada orang sudah mulai melihat badanmu, kamu segera banting itu petasan. Kecuali kalau orangnya tuli

* HaPPiPpY * : kalo ketemu orang tuli gmana?

Ya, kan sekarang ada petasan mancur, Pipi. Nah kalau dia mulai mau melihat kamu, nyalain petasan mancurnya, pasti dia akan menoleh ke atas. Udah itu, kalau perlu tendang dianya, sambil kamu ngomong: “Balik siah, Kehed!” Ini bukan kasar, Pi, maksudnya supaya dia lebih akan memikirkan sifatmu, bukan badanmu

* HaPPiPpY * : hahahhaaa
* HaPPiPpY * : kang pid kan ga mungkin tiap hari aku bawa petasan
* HaPPiPpY * : ato gerakin tangan ke atas
* HaPPiPpY * : ato bawa tong dan drum ke kantor

Pidi Baiq : terserah, tapi itu caranya
Pidi Baiq : memang repot, tapi kamu aman

* HaPPiPpY * : iya sih
* HaPPiPpY * : gelo eung. Gila

Pidi Baiq : He he orang jenius pada masanya dianggap gila

* HaPPiPpY * : hakhakaha
* HaPPiPpY * : iyaa
* HaPPiPpY * : kang pidi emang jenius
* HaPPiPpY * : salute!

Pidi Baiq : astagfirullah, segala puji bagi Allah

* HaPPiPpY * : kenapa?

Pidi Baiq : jangan muji-muji saya
Pidi Baiq : saya kan enggak nikah sama anak di bawah umur

* HaPPiPpY * : ngeeeeeeeekkksss
* HaPPiPpY * : itu syeh pujii

Pidi Baiq : berdoa aja, Pi, kalau mau kurus
Pidi Baiq : di sana berdoanya
Pidi Baiq : di dalam gua di Pangandaran
Pidi Baiq : jangan bawa bekal makanan

Terimakasih Kang Pidi atas tips-nya, hari ini saya bisa tersenyum!

ABIN NABA

ABIN NABA

oleh Pidi Baiq

BAB I

Ketika Raja Omes menyelesaikan makan siang bersama Raja-raja lainnya yang menginap di kerajaannya, Abin berhasil ditangkap oleh wali kelasnya, setelah dia berhasil kabur dari  sekolah.

Di sekolah, ia dipanggil oleh guru-gurunya yang kemudian memarahinya dengan bahasa yang formil di sebuah ruangan yang sempit yang penuh dengan tulisan pepatah. Abin menangis meskipun Abin tahu bahwa tak ada yang bisa diselesaikan oleh air mata. Tetapi itu adalah air mata kecewa dan amarah.

Mendengar nasib Abin, semua Raja merasa kasihan kepada Abin, kecuali Raja Osmon, karena dia masih tidur. Raja Satar langsung memanggil jendralnya, yang sedang menghadiri pembantaian semut dan lalat di Afrika, untuk egera menmbantu menangani kasus Abin.

Para raja itu  segera mengunjungi rumah khusus penampungan anak-anak bolos sekolah. Dan anak bolos sekolah yang pertama bicara kepada raja-raja adalah Zaelos.

Zaelos bilang bahwa pada saat ia bolos, sebenarnya dia terus memikirkan sekolahannya. Pacarnya Zaelos adalah Wasito, yang telah dibunuh oleh adik Ketua Murid karena dianggap berpotensi menghalangi gerakan kakaknya meraih jabatan yang lebih tinggi, ketua OSIS.

“Coba lihat sekarang, bagaimana mungkin kami tidak bolos sekolah. Kepada sekolah saya bayar SPP dan hal yang lainnya juga, lalu tiba-tiba kami menjadi tawanan”

“Lihatlah Abin, ia harus cinta kepada Sorea, ketua seksi rohani OSIS, hanya agar dia bisa semangat sekolah ketika ia tidak bisa mendapatkannya dari hal lain. Padahal dia tahu Sorea itu jahat karena suka membunuh capung, dan itu adalah merusak karya Tuhan.”

Zaelos menceritakan semuanya dengan ngawur, tetapi Raja-raja itu menangis mendengarnya. Sekarang Zaelos telah didengar untuk segala sesuatu secara penuh.

Lalu Zaelos berkata, “Wahai raja segala raja, Bolos sekolah adalah tidak benar, saya katakan ini supaya tidak ada orang lain yang  bolos sekolah. Abin tidak ada di sini, Raja, perbuatan kami bolos sekolah adalah untuk Merica, ketua geng kami, bahwa hatinya selalu berguncang ketika dia berpikir tentang penderitaan anak-anak  yang bosan berada di dalam kelas. Mereka ingin laut. Ingin gunung, tapi terhalang oleh pagar yang tinggi, dan kami adalah orang-orang yang lemah sebagaimana mereka memandang kami begitu”

Itu adalah mereka, telah saling berpegangan tangan sampai merasa bahagia meskipun tidak. Dan akan terus berusaha melawan dari segala macam bujukan yang akan membuat mereka terpisah dari kehidupannya yang nyata, dan tidak usah berpikir apa-apa lagi selain menjadi kerbau untuk sebuah kebenaran di luar diri mereka, Kunci Jawaban namanya.

“Wahai Raja-Raja, kami mungkin dapat mengambil pelajaran dari sekolah, namun ketika mereka tidak menggunakan hatinya, itu telah menyebabkan banyak korban. Lalu mengapa mereka terus menjadi seperti itu. Menjadi begitu marah kepada kami ketika seharusnya justru harus merangkul kami yang nakal ?”

Dan Raja berkata, “Anak-anakku, terserahlah apa yang kamu bicarakan itu. Tapi tidak ada anak sekolah yang lebih lebih nakal di muka bumi ini dibanding dengan melakukan perbuatan bolos sekolah, ketika kepala sekolah justeru sedang istirahat di sorga”

“Ingatlah, Anak-anakku, bagaimanapun, bahwa guru-gurumu masih marah kepada kalian, karena dibutakan mata mereka dari masa lalunya yang juga pernah menjadi anak-anak. Abin dan juga kalian adalah anak-anak bumi, yang dilahirkan oleh kasihsayang. Kalian boleh pergi ke ke laut, ke gunung, ke lembah, bersama dirimu sendiri,  untuk mendapat hikmah dan pelajaran, bahkan dari apel yang jatuh menimpa kepala Newton.”

“Namun, marilah kita berangkat bersama-sama dan melihat bagaimana kita dapat membantumu untuk kembali gembira. Kalian harus tenang, karena jika kita semua begitu, nyaris tak akan ada kekuatan yang akan bisa merobohkan kita. Dan itu adalah seperti karang “

Zaelos berkata, “Raja, anak langit, Raja segala raja, kalau kemudian sekarang kami harus kembali ke sekolah, pertama-tama kita harus mengirimkan Saturnus. Memberitahu mereka bahwa kami telah berpikir untuk kembali ke sekolah. Sementara itu kami akan menunggu di sini untuk mendapatkan jatah makanan sambil bermain skateboard”.

“Kami akan memberanikan diri menelepon orangtua kami yang bertahan dalam makanan yang basi karena kami lama tak kunjung pulang.  Dan  mengajak guru-guru kami untuk melihat apakah mereka bisa mendengar apa-apa tentang kasih sayang, sehingga ini akan membuat mereka belajar untuk bicara dengan cara yang menentramkan. “

BERSAMBUNG

OKI DAN ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTO

“OKI dan ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTO.

Saya baru pulang dari Jogja. Empat hari di sana untuk acara konser Musik The Panasdalam: “ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTO” di Taman Budaya Yogyakarta.

Berangkat dari Bandungnya malam jum’at, tgl 21 Juli. Pulang ke Bandungnya hari Minggu, pada waktu Jogja sudah ashar, yaitu setelah saya mengagumi candi Prambanan dengan cara lama-lama memandangi reliefnya, pada tanggal 24 juli 2011.

Itu perjalanan yang tidak keren, tapi rame, karena perginya naik bis, bersama rombongan warga The panasdalam. Pulangnya juga begitu, pulangnya juga rame. Bedanya, pada waktu kami pergi, masing-masing masih telihat tampil seger, sedangkan pada waktu pulangnya masing-masing membawa oleh-oleh.

Menurut saya naik bis itu capek, meskipun di dalam bisnya ada ketawa, meskipun kami boleh tidur dan ada musiknya. Meskipun sopirnya sudah tua dan gak boleh tidur. Meskipun ada konsumsi dan saya tidak ngambil, kecuali roti aja 2 dan beberapa yang lainnya.  AC-nya dingin dan saya pake kacamata hitam. Ya betul, biar bagaimana pun, tetap saja capek, meskipun diselingi oleh berphoto-photo dulu di SPBU pada kesempatan bis harus mengisi bensin, meskipun diselingi istirahat dulu di sebuah rumah makan dan ngopi.

Atau mungkin bukan capek, lebih tepat dibilang kesal, karena lama sekali nyampenya. Menurutku itu membosankan kalau harus duduk di dalam bis selama 12 jam lebih, tanpa ada kolam renang. Apalagi ada si Oki, si Oki Jelly Drink, yang ikut pake kaos The Panasdalam bajakan, karena membelinya di Gasibu. Yaitu Oki yang pernah saya nyangka dia itu pake topeng, sampai-sampai saya bisiki dia, mending muka asli, Oki, cakepan muka asli kamu mah. Tapi katanya itu asli dan harusnya saya minta maaf, tetapi tidak.

Oki itu masih muda, masih remaja dan suka dipotret dengan menyimpan kedua jari tengahnya menempel di kedua pipinya, yaitu di kanan kiri mukanya yg dia bikin seseram mungkin, supaya semua bayi di dunia akan menjerit pada waktu melihat potretnya.

Pada waktu istirahat untuk ngopi, yaitu di daerah empat jam lagi sampai Jogja, Oki bilang ke saya dia ingin Bekti. Awalnya saya bingung, karena saya kira Bekti itu nama makanan. Ternyata bukan. Bekti itu mahasiswi senirupa UPI Bandung yang ikut dalam rombongan. Dia ingin Bekti katanya, ingin jadi pacar Bekti. Dia butuh bantuan saya untuk dijodohin sama Bekti, bagaimana pun caranya asal bisa jadian.

Sebetulnya Bekti itu adalah orang kedua yang Oki harapkan akan mau, atau lebih indah kalau dikatakan: Bekti itu adalah calon korban kedua yang ingin Oki tembak. Sebelumnya Oki sudah berhasil ditolak oleh siapa itu namanya, mahasiswi senirupa UPI juga.  Oki nyatain langsung ke orangnya pada saat kami istirahat di rumah makan. Nyatain ke dia bahwa Oki  ingin menjadi pacarnya seperti dalam adegan sebuah film, disaksikan oleh semua anggota rombongan yang tertawa dan juga dihandycam. Menurut saya itu pertunjukkan yang bagus, yang tentu saja sekaligus mengecewakan bagi Oki. Saya hanya bilang, sabar Oki, masih ada wanita lain yang mau menolakmu. Wow, Oki tidak sedih. Itulah kerennya Oki yang saya suka. Oki saya lihat tetap tersenyum, tetap gembira, dan pasti akan mudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa bagi dia yang sudah berpengalaman ditolak.

Gagal mendapatkan orang yang dia mau, Oki beralih ke Bekti, yaitu Bekti yang sama menolaknya juga. Oh Oki, coba dengar, katanya, seseorang dikatakan Ksatria bukan ditentukan oleh dia menang dalam bertanding, tetapi oleh karena dia berani mau berjuang. Atau Oki sudah tau?.

Edan, Oki masih terus saja gembira, seolah-olah dia sengaja memang harus bersikap begitu untuk membuatnya tetap tenang. Seolah-olah dalam hidupnya Oki, tak lain cuma ada kesenangan, meskipun sebetulnya tidak. Meskipun sebetulnya saya curiga bahwa itu adalah bentuk lain dari cara Oki untuk menutupi dirinya yang kecewa.

Saya senang Oki ikut ke Jogja sebagaimana saya senang yang lain juga pada ikut. Saya senang karena lalu tau kata Oki dia senang bisa ikut bersama The Panasdalam. Dia senang katanya, karena bisa melihat  The Panasdalam tampil di Jogja, meskipun katanya itu terlalu lama, terlalu malam, untuk The Panasdalam segera muncul.

Iya, Oki, di luar dugaan ada pemuluran dari jadwal rundown yang sudah ditentukan. Tapi itu hal biasa, Oki. Lumrah dan gak apa-apa. Panitia pasti sudah berusaha melakukan hal yang terbaik biar bagaimana pun. Sudah edan-edanan berbuat banyak hal mengurus semuanya sehingga acara ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTA akhirnya bisa terwujud dengan sukses.

Marilah tetap senang, meskipun bisa Oki saksikan sendiri bahwa penampilan The Panasdalam harus berhenti di tengah jalan, karena tiba-tiba acaranya dihentikan oleh pihak yang berwajib.

Marilah tetap oke, meskipun dengan begitu akhirnya saya cuma bisa membawakan 10 lagu dari 30 lagu yang sedianya akan  saya nyanyikan. Saya tidak kecewa, Oki, sama sekali tidak, saya tetap gembira, sama seperti ketika Oki tetap gembira pada waktu Oki ditolak.

Malahan saya sepakat dengan keputusan pihak berwajib, karena menurut saya mereka sudah benar. Mereka sudah melakukan apa yang harus mereka lakukan dengan mengacu pada kesepakatan di atas kertas bahwa acara harus sudah selesai sampai jam dua belas malam.

Harus tetap riang, Oki, meskipun acaranya dihentikan. Harus tetap senang, Oki, toh biar bagaimana pun saya masih bisa bernyanyi di dalam hati, untuk mereka  akan bisa mendengarnya juga di dalam hati, karena saya percaya bahwa kita masih memiliki hati nurani dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.

Itulah, Oki, Konser Musik The Panasdalam, mudah-mudahan bisa memberikan kegembiraan dan kesenangan. Memberikan penghiburan dan pencerahan, khususnya kepada mereka yang sudah hadir dan harus bayar. Dan itulah mereka, Oki, yaitu band-band pembuka yang sudah tampil sangat keren dan sudah berhasil bisa membuat saya gembira dan juga ketawa sendirian menyelip di antara 600 orang penonton.

Kita sekarang sudah ada di Bandung lagi, dan sudah selalu sedang bangga kepada Patrick Manurung, si ketua penyelenggara ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTO, yang sudah habis-habisan berjuang hanya untuk sebuah konser musik The Panasdalam. Juga bangga kepada kawan-kawan Jogja yang sudah sangat baik, mau bergabung menjadi anggota panitia, demi membantu Patrick Manurung yang saya lihat sekarang mulai sedikit punya brewok.

Oh Jogjakarta, ya jogjakarta. Haruskah saya katakan bahwa saya mencintaimu? Saya kira tidak perlu lagi, karena kamu sudah tau.

Bandung 25 Juli 2011 masehi

Pidi Baiq

Deni Rodendo

Deni Rodendo,

kamu harus ingat, kamu pernah bersamaku, bersama The Panasdalam yang dulu. Termasuk ingat waktu kita manggung di salah satu kampus di Bandung, tahun berapa itu, tahun 1996 kalau gak salah. Aku masih mahasiswa di jalan ganesha, waktu itu, karena belum lulus, kamu juga masih belum lulus kan? Aduh, iya kita pernah mukulin ketua panitia. Gara-gara apa sih? Oh iya, ha ha ha gara-gara kita disuruh minta maaf ke penonton karena dianggap liriknya kurang ajar. Dia bilang penontonnya masih mahasiswa,  masih murni, masih suci. Setelah dipukul tuh apa ya? Oh ha ha seluruh panitia pada meminta maaf ke kita, karena kita paksa mereka untuk meminta maaf, kalau tidak, kita ancam mereka akan diserang. Ha ha ha. Kamu ikut mukul enggak sih, Den? Enggak ya? Iya enggak. Kamu baik. Cuma aku aja ya? Ha ha ha. Itu jaman dulu, Den, aku sekarang sudah baik, sangat baik. Sudah berketuhanan. Sudah beragama lagi. Lebih suka memilih diam daripada harus susah karena marah.

Setiap manggung kenapa kita selalu senang sih? Oh iya dong, karena kita selalu senang meskipun di tengah pertunjukkan gitarisnya tiba-tiba saja turun dari panggung karena katanya dia harus pergi menjemput pacarnya. Enggak apa-apa, kita tetep jalan, tetep bisa manggung tanpa gitaris. Iya, Den, tetap senang, meskipun kamu pernah teriak-teriak manggil saya lewat microfon, karena waktu pas interlude sayanya turun dari panggung, makan siomay dulu, dan lama gak muncul-muncul. “Vocalis!! Mana? Nyanyi lagi!! Woi!”. Saya dengar, Den, tapi siomaynya kan belum habis. Ha ha ha. Iya tetap senang, selalu tetap senang, meskipun kita pernah ditegur dosen di kampus tempat kita manggung, karena dia sangka kita meneriakkan fuck you. Dia kayaknya gak nyimak deh, kita kan teriak “In Fuck You, di mesjid!” Itu kan bagus, kita nyuruh orang untuk berinfak. Ha ha ha.

Kita juga siaran di radio ya? Waaah!! Sama si Hagi Hagrobromo ya? Waaah. Nama acaranya “The Panasdalam Sialan”, singkatan dari The Panasdalam sialan langsung. Kalau ada pemirsa yang mau nelepon passwordnya apa, Den? Oooh saya inget passwordnya. Passwordnya:”Bisa bicara dengan Nani?”. Ha ha ha. Jadi kalau ada yang nelepon setelah dia sebutkan passwordnya, kita bisa bilang:”Oh maaf, Mas, salah sambung, ini radio” Ha ha. Kita juga pernah siaran dalam keadaan telanjang ya? Kita berani karena kita tahu pemirsa tidak akan bisa melihat kita. Dan kita juga tidak akan bisa saling lihat, karena apa, Den? Karena mata kita ditutup kain ha ha ha. Yang malu mah si Hagi, karerna si Hagi kan produsernya dan dia harus bikin laporan kegiatan ke boss radio. Terus apa kata si Hagi, Den? Dia bilang boss yang punya radionya nanya ke si Hagi: itu beneran mahasiswa bukan? Kok begitu?

Begitu kenapa siiiih? Oh, pasti termasuk gara-gara dia denger, kita di radio menyiarkan laporan pandangan mata pertandingan catur. “Pemirsa, kami laporkan, dia sedang berfikir keras!! Lihaaat, Pemirsa, dia mulai mengangkat pionnya, pelan-pelaaan. Iya! Dan mulai melangkahkan pionnya tiga kotak, Pemirsa. Tok, tok, tok”. Ada yang dengerin enggak sih ya? Pasti ada lah, Den. Terus: “Pemirsa, kami laporkan lawannya nampak terdiam malu, tapi kayaknya dia juga terkejut mendapat serangan seperti itu. Dia tidak menyangka! Pemirsa, pemirsa!!! Bagaimana dia membalasnya? Lihat, dia mengangkat kudanya!!! Iyaaaa. Tok, tok, tok!!!” Ha ha ha gak rameeee!!!!

Ya ampuun, lomba mewarnai juga ya di radio? Ha ha ha. “Saudara-saudara, pemirsa semuanya, di seluruh jazirah saudi arabia, malam ini di studi okami ada gambar rumah, pohon, mobil, matahari, ikan dan rumput, karya anak TK yang nakal dan ngantuk, silakan tentukan warnanya, nanti kami yang akan mewarnainya”. Siapa yang keluar sebagai pemenangnya, Deeen? Ha ha Si Dea, kecengan kamu. Hah? Aneh, dia kan enggak ikutan. Ha ha ha.

Rame. Siapa aja sih personil kita dulu itu? Si Erwin, kamu, saya, Ninuk, Dikdik, Nanto, Fufus, Iid, Halim, Bagil, Yuswan, Andri, Efron, Wawan, Dadan, Binu, Eko, Wasra. Ha ha banyak banget, naik panggung semua ya? Ha ha iya, tetep aja naik panggung meskipun ga bawa alat musik. Iyaaaa, yang penting kepotret, iyaaa!! Dan dapat konsumsi. Kata si Eko, dia suka banget ya kalau saya teriak kepada penonton:”Sampaikan kepada presiden kalian!”. Oh ya ampun, baru inget, dulu kan kita masih belum gabung sama Indonesia ya? Ya ampuuun iya.

Duh, Den saya ingin ceritakan semuanya, ingin ceritakan semua hal ke thepanasdalaman yang dulu. Ingin banget. Tapi sayanya sekarang harus pergi dulu. Nanti deh saya sambung lagi, setelah saya kembali menyebarkan uang. Eh, Den, kamu setuju enggak, kalau ada yang bilang saya sekarang sudah tidak seksi seperti dulu lagi? Jangan setuju ya, Den, biar saya senang. Makasih, Den. Makasih, sudah pernah bersama saya.

Jakarta, 17 Juli 2011.

Hallo Piyan

Hallo Piyan. Apa khabar?

Kamu masih ingat enggak sih? Dulu waktu kita masih kecil, waktu masih SMP, sore-sore di belakang rumah saya, kamu, saya, sama si Afud, pernah ngolesin Rhemason ke pantat kucing? Ha ha ha iya pake Rhemason neneknya si Afud ya? Kucingnya dikurungin dulu pake kurungan ayam, nunggu sepi. Pas udah gak ada orang baru kita olesin.

Eh, pas udah diolesin, kalau gak salah kucingnya enggak langsung lari ya? Iya bener, diem dulu sebentar, kan belum kerasa panasnya, pas udah kerasa langsung deh lari pontang-panting ha ha ha iya, kitanya juga langsung kabur, ke rumah masing-masing. Takut dimarah. Itu kucing siapa sih? Kucing Bi Entin ya? Ha ha ha iyaaa, kucing angora. Kasian ih, kan dia orang kaya. Rumahnya paling bagus di Perum. Dulu mah kita nyebutnya Perum. Kalau angkot disebut Honda.

Terus, inget gak, waktu si Afud bawa obat gosok? Itu, Yan, obat gosok tradisional yang dibawa bapaknya si Afud, dari Timor Timur? Iya ih panas banget. Kalo sekarang mah mungkin kayak Galiga kali ya? Tapi kayaknya itu mah lebih panas lagi deh, panas banget, kulit kayak kebakar.

Terus  saya tantang si Afud sama si Nandan. Ditantang adu berani molesin obat gosoknya ke pantat masing-masing. Ha ha ha iyaaa pada mau, dasar anak kampung ha ha ha iya,  Piyan juga ikut kaan?

Molesinnya harus bareng. Biar adil. Pas pertama diolesin ke pantat sih kitanya masih pada diem dulu, pada senyum nunggu efek ha ha. Kayaknya gak ada yang menang ya, Yan? Iya gak ada, semuanya pada lari. Pada pulaaaaang ha ha ha. Iya, saya juga. Di rumah, saya mah langsung itu, Yan, langsung ngambil botol di kulkas,  terus ditempel-tempelin ke pantat ha ha ha

Ah edan lah, masa kecil yang kacau, tapi indah, Yan! Terus, kamu inget ga, kita pernah disuruh turun sama sopir bemo. Ha ha ha iya, gara-gara itu, gara-gara kita nongol keluar jendela sambil teriak-teriak: “Culiiiik! Tolooong! Culiiik!!”. Ha ha ha. Kitanya turun, ha ha ganti bemo.

Nah, kalau si Wildan nya Bu Tia kamu masih inget gak? Iya, Wildan cepak, anaknya Pak Amid Lebe. Kan dulu habis pulang ngaji, kita borgol dia rame-rame, pake sarungnya sendiri. Terus diiket di pohon kersen, deket nisan kuburan, deket sungai ha ha ha, malam-malam ha ha. Si Wildannya teriak-teriak gitu.

Lupa ya, kenapa dulu enggak kita plester mulutnya. Biar gak bisa teriak. Jadi aja orang-orang pada datang. Terus kitanya disidang di rumahnya si Wildan. Ha ha ha dimarahiiin Pak Amid. Ibu kamu dipanggil ya? Ibunya si Afud juga datang.  Ibu saya mah gak datang euy, lagi ada acara ke Dago.

Terus, itu Yan, kita pernah disuruh pak siapa sih? Pak Nukman ya? Iya, Pak Nukman kalau gak salah, disuruh itu, ngehapus gambar pocong yang kita bikin pake cat tembok di pohon tua yg besar di depan rumahnya. Ha ha ha. Pak Nukmannya takut ha ha. Nama anaknya si Eli ya, Yan? Cantik euy ha ha. Nanti deh saya cerita soal dia. Ha ha ha.

Terus, apalagi ya? Itu, Yan, masih inget ga, kita pernah naik ke pembatas kelas. Pembatas kelasnya kan terbuat dari bahan triplek ya? Dulu kita naik ke situ mau apa sih? Oh iya mau ngintip, katanya ada yang cantik di kelas 2 E, si Mila Abidin, pindahan dari Bekasi, ha ha ha, tripleknya roboh ke sebelah sana, kitanya kebawa juga deh. Ha ha siswa-siswanya pada ngejerit. Pada lari. Hi hi hi. Bu Susi juga lari, dia kan lagi ngajar di situ. Marah dia. Dia ngajar IPS ya? Terus kita diarak ke ruangan BP. Hi hi hi. Tegang euy, tapi rame, Yaaan!

Kalau Mang Dedi tukang bubur? Kemana sekarang dia ya, Yan? Kamu masih inget kan? Dulua dia marah-marah gara-gara huruf B di tulisan “Bubur Ayam Enak” nya kita coretin pake pilox jadi D, ha ha ha iya jadi “Dubur Ayam Enak”. Ha ha ha.

Kalau si Topan? Kamu inget ga? Dulu kan dia pernah jejeritan karena dipaksa disuruh merkosa kucing ha ha ha di kebun Mang Usman. Hi hi hi, mukanya sampe pucat gitu. Kamu juga lihat kan? Ha ha ha. Sekarang dia di jakarta, Yan, kerja. Tapi dia trauma enggak ya kalau sekarang dia liat kucing? Mudah-mudahan aja iya. Ha ha ha

Terus itu, Yan, masih inget gak? Dulu kita ngendap-ngendap, ngambilin sendal orang yang lagi acara kendurian.  Iyaaaaaa!! Sendalnya kita tulisin pake spidol permanen, hi hi hi kan dulu belum ada spidol whiteboard. Ditulisin hurup arab. Iyaaaaaa! Habis itu dibalikin lagi ke sana.

Yaaah, dulu kamu lari sih, jadi aja gak lihat gimana pas mereka pulang. Edan, Yan, pada gak ada yang mau make sendalnya ha ha ha takut dosa nginjek tulisan arab. Ya pada marah sih, kan gak bisa dihapus ha ha. Kamu ngumpet di mana sih? Di semak-semak ya? Payah! Saya mah di warung Bi Nae.

Kalau mbak Vina, masih inget gak, Yan? Mbak Vinanya si Bu Iyam. Siapa sih namanya orang yang suka ngapelin mbak Vina itu? Lupa saya euy. Iya hi hi hi helm full facenya, yang pas bagian mulutnya, kita colekin tahi ayam, hi hi hi, tahi ayamnya udah kita siapin sejak sore ha ha.

Kita pada ngumpet di samping pos ronda, ngeliatin yang ngapelin mbak Vina pulang. Ha ha ha pas udah dipake helmnya, sama dia diapain, Yaaaaaan!!?? Diapain, Yaaaaan?! Iyaaa ha ha dibuka lagi ha ha ha. Terus woak!! woak!! woak!! ha ha ha muntah.

Mbak Vinanya marah, ha ha ha nyalahin si Daman yang lewat mau ke warung ha ha ha. “Eh? Bukan saya, Mbak!” Ha ha ha “Saya mah gak tau”. Ha ha ha!

Piyan, dulu itu kita kurang ajar gak sih? Kayaknya enggak ya? Tapi kalau kurang ajar juga gak apa-apa deh, gampang, berarti sekarang tinggal menyesal.  Tinggal mengenang bahwa sebenarnya itu adalah indah.
Oke ya, Yan. Segini aja dulu, nanti, kalau perlu, yang lain juga mau saya ceritain, biar semua orang tau bahwa sebenarnya saya juga pernah menjadi anak-anak. Pernah bersama kamu, bersama Afud, bersama Nandan yang mau menjadi kawan saya, di saat mana yang lain mah pasti pada gak mau ha ha.
Kalau boleh, sekarang saya mau sekalian minta izin nih, Yan. Saya rencana mau ngangkat kisah masa lalu kita dulu itu, menjadi bagian dari cerita buku yang sedang saya tulis, buku DRUNKEN MEMORI. Boleh ya, Yan?
Boleeeeehhh!!! Makasih, Piyan

Akan Mengenang Mida

“Akan Mengenang Mida~

oleh Pidi Baiq

BAG I

1.

Kukasih tau ya, bersamaku sekarang sudah ada malam, yang menghembuskan angin untuk jendela, yang tau dia adalah malam. Ada dua gelas berisi air lemon, yang tau aku suka dari semenjak aku tadi membuatnya. Ada rice pudding di sana, beberapa sentimeter dari tempatku, yang tau aku mau. Ada malam berisi suara gitar dan alunan saxophone dari sebuah rumah di seberang jalan, mengudarakan lagu “salep Dios al rey”, yang tau aku rindu negaraku. Ada juga kacang hitam, daging dan yucca dengan saus bawang putih, yang tau ia kiriman dari Ibu Fernan yang centil tapi baik. Ada buku The Diary Bolivia Ernesto Che Guevara dari penerbit Marinello Juan, di timur Kuba, yang tau aku membacanya seminggu yang lalu dan ketiduran.

2.

Siapa yang peduli akan semua keadaan ini? Mungkin aku sendiri. Tapi aku tidak pernah berpikir bahwa hal yang seperti ini akan terjadi pada diriku, ini tentang ada sesuatu yang  aktif dan mengejutkanku yang telah lahir dalam diriku selama musim panas ini, yaitu semenjak aku bertemu dengan dirinya, dengan Mida, di teras lembaga, tiga minggu yang lalu, di distrik Vedado dalam sebuah acara pertunjukan musik. Dia adalah perempuan, dari kota Regla, di sisi lain Teluk Havana, yang tau aku tau, dia sekarang sedang duduk di sana, di kursi kayu sebelah kananku untuk sebuah buku filologi yang dia ambil dari kampusnya, di sebuah perpustakaan Universitas Havana.

Agustus 2001

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers